Kamis, 18 Oktober 2007

iptek

Semen dari Sampah
Oleh Dedy Eka Priyanto

Jepang, sebuah negeri penuh inovasi. Mungkin sebutan
itu sesuai dengan bagaimana jepang menangani masalah
sampah. Setelah berhasil membuat sebuah airport
berkelas internasional di Kobe yang dibuat diatas
lapisan sampah, lalu menerapkan pembuatan pupuk dari
sampah di berbagai hotel di jepang, kini jepang telah
berhasil mengubah sampah menjadi produk semen yang
kemudian dinamakan dengan ekosemen.

Ekosemen

Diawali penelitian di tahun 1992, dengan dibiayai oleh
Development Bank of Japan, para peneliti Jepang telah
meneliti kemungkinan abu hasil pembakaran sampah,
endapan air kotor dijadikan sebagai bahan semen. Dari
hasil penelitian tersebut diketahui bahwa abu hasil
pembakaran sampah mengandung unsur yg sama dg bahan
dasar semen pada umumnya. Pada tahun 1998, setelah
melalui proses uji kelayakan akhirnya pabrik pertama
didunia yang mengubah sampah menjadi semen didirikan
di Chiba. Pabrik tersebut mampu menghasilkan ekosemen
110.000 ton per tahunnya. Sedangkan sampah yang diubah
menjadi abu yang kemudian diolah menjadi semen
mencapai 62.000 ton per tahun, endapan air kotor dan
residu pembakaran yang diolah mencapai 28.000 ton per
tahun. Hingga saat ini sudah dua pabrik di Jepang yang
memproduksi ekosemen.

Pembuatan ekosemen

Penduduk jepang membuang sampah baik organik maupun
anorganik, sekitar 50 juta ton/tahun. Dari 50 ton per
tahun tersebut yang dibakar menjadi abu sekitar 37 ton
per tahun. Sedangkan abu yang dihasilkan mencapai 6
ton/tahunnya. Dari abu inilah yang kemudian dijadikan
sebagai bahan dari pembuatan ekosemen. Abu ini dan
endapan air kotor mengandung senyawa-senyawa dalam
pembentukan semen biasa. Yaitu, senyawa-senyawa oksida
seperti CaO, SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. Oleh karena itu,
abu ini bisa berfungsi sebagai pengganti clay yang
digunakan pada pembuatan semen biasa.

Namun CaO yang terkandung pada abu hasil pembakaran
sampah dinilai masih belum mencukupi, sehingga
limestone (batu kapur) sebagai sumber CaO masih
dibutuhkan sekitar 52 persen dari keseluruhan.
Sedangkan pada semen biasa, limestone yg dibutuhkan
mencapai 78 persen dari keseluruhan.

Proses selanjutnya adalah abu hasil pembakaran sampah
(39 persen), limestone (52 persen), endapan air kotor
(8 persen) dan bahan lainnya dimasukkan ke dalam
rotary klin untuk kemudian dibakar. Untuk mencegah
terbentuknya dioksin, pada proses pembakaran di rotary
klin, dilakukan pada 1400 derajat celcius lebih dimana
pada suhu tersebut dioksin terurai secara aman.

Kemudian gas hasil pembakaran pada rotary klin
didinginkan secara cepat untuk mencegah proses
pembentukan dioksin ulang. Sehingga hasil gas buangan
tidaklah berbahaya bagi manusia. Sedangkan pada hasil
pembakaran yang masih mengandung senyawa logam
dipisahkan, untuk kemudian dapat dipergunakan untuk
kebutuhan lain.
Hasil akhir dari proses ini adalah ekosemen.

Pengaruh plastik vinil

Plastik vinil yang terdapat dalam sampah pada proses
pembakaran akan mengakibat kekuatan konkrit ekosemen
akan berkurang. Hal ini diakibatkan oleh adanya gas
Cl2 hasil peruraian plastik vinil yang dapat
mempengaruhi kekuatan konkrit ekosemen.

Kualitas ekosemen

Berdasarkan hasil pengujian JSA (Japan Standar
Association) dinyatakan bahwa ekosemen mempunyai
kualitas yang sama baiknya dengan semen biasa.
Sehingga, hingga saat ini penggunaan ekosemen sudah
digunakan dalam pembangunan jembatan, jalan, rumah,
dan bangunan lainnya di Jepang.

Dengan adanya pengubahan sampah menjadi semen,
menambah alternatif pengolahan sampah menjadi barang
bermanfaat bagi manusia yang telah membuangnya. Selain
itu dengan adanya alternatif pengolahan sampah menjadi
semen, biaya pengolahan sampah di Jepang menjadi lebih
murah. Bila sebelumnya 40.000 yen per ton (pengolahan
sampah konvensional) menjadi 39.000 yen per ton
(pengolahan sampah hingga menjadi semen).

Peluang di Indonesia

Indonesia belum bisa lepas dari masalah sampah. Mulai
dari penolakan warga masyarakat sekitar TPA akibat
kepulan asap dan bau yang ditimbulan pengolahan sampah
saat ini hingga kejadian yang tidak pernah dilupakan,
tragedi leuwih gajah yang merenggut 24 nyawa tak
bersalah.

Sudah banyak upaya yang dilakukan, termasuk dengan
mengubahnya menjadi sumber energi (metan) namun akibat
kurangnya prospek dari segi ekonomi, akhirnya
perkembangannya masih jalan ditempat.

Berhasilnya Jepang, mengolah sampah menjadi semen,
tentu menjadi peluang sangat besar untuk dikembangkan
di Indonesia. Di Jakarta saja sampah yang dihasilkan
oleh warganya mencapai 6000 ton lebih per hari. Selain
itu secara prinsip, pembuatan ekosemen hampir sama
dengan pembuatan semen biasa, sehingga jika bisa
dilakukan kerja sama dengan pihak industri semen, maka
akan jadi kerjasama yang menguntungkan baik pihak
pemerintah maupun pihak industri. Dari pihak
pemerintah penanganan sampah bisa sedikit teratasi dan
dari pihak industri mampu mengurangi penggunaan
limestone (26 persen).

Namun yang terpenting adalah kemauan pemerintah,
khususnya pemerintah kota/daerah, untuk mengelola
sampah dengan baik dan memulai untuk mencoba
memisahkan sampah antara sampah organik, anorganik,
botol dan kaleng menjadi kebudayaan bangsa Indonesia
secara luas. Sehingga peluang pemanfaatan sampah
menjadi semen atau produk yang lain bisa oleh pihak
industri bisa lebih ekonomis.

Dedy Eka Priyanto, Tokyo National College of
Technology. Email: dedy_monbusho05@yahoo.co.jp


________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Tidak ada komentar: