Rabu, 17 Oktober 2007

kesehatan

Flu Burung Capai Tahap Penyebaran Lebih Cepat Cetak E-mail
 
MADISON Universitas Wiconsin (UW), Madison, AS mengungkapkan bahwa flu burung telah mencapai tahap bisa menyebar secara lebih cepat dan akan menjadi mudah bermutasi untuk menular antarmanusia.
Tim penelitian yang dipimpin oleh Yoshihiro Kawaoka dan Fakultas Kedokteran Veteriner (UW) telah mengidentifikasi perubahan tunggal dalam protein viral yang memfasilitasi virus menjadi memiliki kemampuan lebih untuk menginfeksi sel saluran pernapasan atas pada mamalia. Dengan mengadopsi sistem respirator, virus mampu menginfeksi dalam jarak yang lebih luas untuk tipe sel dan lebih mudah menyebar, serta sangat berpotensial mencapai tahap pandemi flu.
"Virus ini sekarang dalam sirkulasi yang lebih menyukai mamalia ketimbang bentuk sirkulasi lain pada 1997. Virus yang sekarang beredar di Afrika dan Eropa ini adalah merupakan yang paling dekat menjadi virus manusia," kata Kawaoka.
Dalam studi terbaru tersebut, di mana telah diujicobakan pada tikus, tim UW mengidentifikasi perubahan tunggal pada permukaan protein pneumonia yang ada di virus H5N1 mendiami sistem pernafasan yang lebih tinggi. Di mana hal itu dimungkinkan karena virus tersebut telah mengalami adaptasi menjadi virus manusia, bukan lagi virus unggas, dan secara lebih efisien terjadi transmisi antarmanusia.
Menurut Kawaoka, virus unggas bisa berada di rumahnya yaitu pada paru-paru manusia atau mamalia lain sebagi sel lebih rendah dalam sistem pernafasan, yang akhirnya memfasilitasi virus itu untuk mengembangkan dirinya sendiri. Suhu dalam paru-paru juga menjadi lebih tinggi dan itu menjadi prasyarat bagi virus untuk berkembang.
Studi baru ini mengambil dua virus yang berbeda dari satu orang pasien, satu dari paru-paru, dan lainnya dari sistem pernafasan lebih atas. Virus yang berasal dari sistem pernafasan yang lebih atas menunjukkan asam amino tunggal yang menunjukkan protein dalam gen virus untuk implikasi influenza.  Sementara yang lainnya, teridentifikasi menunjukkan tiruan yang lebih baik dalam temperatur suhu yang lebih rendah.
"Perubahan ini memang dibutuhkan namun masih belum cukup. Ada faktor lain dari virus yang dibutuhkan guna menyebabkan pandemi," katanya.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan, Lily Sulistyowati menyatakan bahwa para ilmuwan memang memiliki kebebasan untuk melakukan penelitian dan mengungkapkan hasil hipotesanya. Namun dia menjamin sampai sekarang virus belum ada mutasi, meskipun berubah bentuk namun identitas virus masih tetap H5N1. Meskipun kasus terbanyak ada di Indonesia, memang bisa jadi mutasi terjadi pada virus yang berada di negara lain.
"Virus masih belum berubah. Masih H5N1, virusnya dari mana, sementara case terbanyak dari kita," katanya.
Senada Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan I Nyoman Kandun juga menilai bahwa ungkapan virus mulai bermutasi hanya menakut-nakuti masyarakat. Pasalnya, berdasarkan pengamatannya dan hasil tukar pikiran dengan para pakar dunia memang belum ada mutasi virus H5N1. Kenyataannya virus yang terdeteksi menginfeksi manusia selama ini masih virus yang berasal dari unggas, bukan dari lainnya.
"Sampai saat ini yang dikhawatirkan semua orang adalah akan terjadi pandemi flu burung. Namun tidak seorangpun yang tahu kapan itu akan terjadi," ujarnya. (abdul malik/sindo/mbs)


Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Tidak ada komentar: