Industri Film Buleleng Tahun 1970------
Diproduksi Sendiri, Diputar Keliling Desa
Mungkin banyak orang kaget jika mengetahui Buleleng
pada awal tahun 1970 pernah memiliki semacam pusat
industri film. Lokasinya di sebuah rumah sederhana di
kawasan Banyumala, Jalan Ahmad Yani, Singaraja. Meski
tak bisa disandingkan dengan industri film di Jakarta,
apalagi dengan Bollywood di India atau Hollywood di
AS. Namun untuk ukuran sebuah kota kecil, geliat
industri film di Singaraja pada masa lampau itu bisa
dijadikan sebuah tonggak sejarah besar dalam
perkembangan sinema di Bali, bahkan Indonesia.
Bagaimana sejarah munculnya industri film di Singaraja
dan kenapa iklim yang sempat tumbuh itu kemudian
hilang?
============================================================
SULIT membayangkan pada tahun 1970-an berbagai desa di
Buleleng, Karangasem, Jembrana dan kabupaten lain di
Bali sempat disuguhi film produksi lokal Buleleng.
Meski saat itu film nasional dengan pemain-pemain
terkenal, seperti Bing Slamet bersama grup lawak
Kwartet Jaya, sudah melanda dunia hiburan di pedesaan
Bali, namun film produksi Singaraja tetap mendapat
sambutan meriah. Justru karena film Bali Utara itu tak
bisa dibandingkan dengan film nasional saat itu,
terutama dari segi kekhasannya.
"Film dengan pemain orang-orang lokal Buleleng itu
menggunakan bahasa Bali dengan kostum serta setting
yang khas Buleleng, sehingga secara emosi para
penonton merasa lebih dekat, akrab bahkan seperti ikut
bermain di dalamnya," kata Anak Agung Ngurah Sentanu
saat ditemui sedang mengumpulkan master film-film lama
di rumahnya di Banyumala.
Ngurah Sentanu memang tak bisa dipisahkan dengan
munculnya industri perfilman di Singaraja tahun
1970-an. Berawal dari kesukaannya bereksperimen dengan
kamera, ia kemudian mendirinya semacam production
house dengan nama Bhaskara Film, di mana ia sendiri
bertindak sebagai produser, sutradara, penulis
skenario, pencatat adegan, dan pekerjaan lainnya.
Memang selama lima tahun ia hanya mampu memproduksi
empat film, ''Karmapala'' (1970), ''Mayadenawa''
(1972), ''Jaya Umbara'' (1973) dan ''Titah Dewata''
(1974), namun demam film lokal yang ia ciptakan sempat
mewabah hingga ke berbagai desa di Bali.
Awal kemunculan industri film di Singaraja itu diakui
Sentanu sebagai sesuatu yang serba kebetulan. Begitu
lulus dari STM elektro di Surabaya, ia bekerja
serabutan sebagai bengkel radio dan alat-alat
elektronik lainnya. Secara kebetulan ia kemudian
bertemu dengan Drs. Kuna Winaya dari FKIP Unud (kini
Undiksha). Saat itu ia diminta membuat pemancar radio
Kumarastana di Jalan Pramuka Singaraja.
Kebetulan juga saat itu FKIP memiliki kamera yang oleh
Kuna Winaya diberikan kepadanya untuk melakukan
eksperimen.
Dari sekadar bermain-main dengan kamera itu kemudian
terbersit di benak Sentanu untuk belajar memproduksi
film. Kebetulan juga ia mendapat dukungan dari
sejumlah teman seniman yang bersedia menjadi pemain
tanpa memperhitungkan bayaran. Seperti sejumlah
seniman di Banyuning, Tukadmungga dan Kalibukbuk. Ada
juga pemain drama gong dari Penarungan yang sangat
terkenal kala itu. Merasa mendapat dukungan, Sentanu
kemudian memberanikan diri membeli sejumlah peralatan,
seprti proyektor, alat dubbing, dan lain-lainnya.
Dengan modal semangat dan kekompakan, mulailah mereka
membuat film "Karmapala". Dengan hasil yang tak bisa
dibilang sempurna, film itu diputar keliling desa di
Buleleng. Sungguh mengejutkan, film itu laku,
penontonnya selalu melimpah. Bahkan, film itu bisa
diputar dua kali dalam semalam di dua desa yang
berjauhan.
Merasa dapat sambutan, Sentanu kemudian membuat film
kedua dengan judul ''Mayadenawa''. Film ini dibuat
secara kolosal dengan kisah klasik yang menceritakan
perlawanan antara tokoh kebajikan dan kebatilan.
Durasi film ini pun dua kali lipat lebih panjang dari
''Karmapala''. Jika ''Karmapala'' durasinya 1,5 jam,
''Mayadenawa'' 3 jam. "Ini karena penonton terbiasa
menonton drama gong, sehingga minta durasinya
diperpanjang," kenang Sentanu yang lahir 24 Desember
1937 itu.
Proses produksi ''Mayadenawa'' ini diakui sangat
melelahkan. Proses pembuatannya pun dilakukan lebih
dari 1,5 tahun. Selain karena kolosal, proses
pembuatan film ini sempat dilanda masalah. Proses
syuting sudah berjalan setengahnya, tiba-tiba pemain
utama wanitanya mengundurkan diri karena menikah. Maka
terpaksa pengambilan gambar diulang kembali dari awal.
Namun, meski melelahkan, para kru dan pemain akhirnya
menikmati kepuasan karena film kedua itu mendapat
sambutan luar biasa dari penonton.
Film ketiga, ''Jaya Umbara'' (1973), dibuat dengan
cerita dan setting lebih modern. Namun, film jenis ini
ternyata kurang laku. Penonton tampaknya lebih suka
cerita-serita klasik seperti ''Mayadenawa''. Maka pada
produksi keempat kembali dibuat film gaya klasik
berjudul ''Titah Dewata''. Film ini pun kembali
mendapat sambutan, apalagi di dalamnya diselipi
sejumlah adegan romantis yang bisa mengharu-biru
penonton.
Bagi Hasil
Bhaskara Film yang dikelola Sentanu ini bisa dikatakan
sebagai production house yang menggarap semua proses
dari produksi hingga pemutaran keliling desa. Biasanya
film itu diputar di desa-desa dengan sistem bagi
hasil. Dari hasil penjualan tiket, Bhaskara dapat
pembagian setengah, dan setengah lagi diambil panitia.
Harga tiket saat itu paling mahal sekitar Rp 25.
Setiap kali pemutaran, biasanya terkumpul hasil
penjualan tiket sekitar Rp 5.000 hingga Rp 10.000.
Hasil pembagian yang diperoleh Bhaskara, setelah
dipotong ongkos minyak mobil, makan dan minum sejumlah
kru, paling tersisa bersih sekitar Rp 125 hingga Rp
150. Itu pun belum dihitung untuk biaya penyusutan
alat-alat produski, kostum dan honor pemain.
"Syukurnya, saat itu pemain tak banyak menuntut honor,
apalagi royalti. Semua bekerja dengan senang dan penuh
kekompakan," kata Sentanu.
Hasil pembagian untuk panitia biasanya dipakai untuk
membangun fasilitas umum, seperti pembangunan pura,
balai desa dan sekolah. Sentanu masih ingat, di Desa
Tukadsumaga, Gerokgak, panitia sampai bisa membeli
jendela untuk melengkapi peralatan sekolah di desa
itu.
"Baru-baru ini saya bertemu seorang guru di
Tukadsumaga yang mengaku masih terharu karena bisa
membeli jendela sekolah dari hasil pemutaran film made
in Buleleng," ujar Sentanu.
Namun setlah film keempat, produksi Bhaskara pun
terhenti. Itu terjadi ketika film-film impor begitu
mudah masuk ke desa-desa. Melalui seorang broker di
Singaraja, film-film nasional maupun film India dan
Hongkong mulai merajalela di Buleleng.
Selain biayanya murah karena hanya menyewa dan bukan
memproduksi, judul-judul film itu bisa berganti-ganti
setiap minggu. Penonton kala itu sesungguhnya masih
kangen untuk menonton film produksi lokal, namun
mereka menginginkan agar setiap minggu bisa berganti
judul. "Itu mustahil, satu film saja harus dikerjakan
selama setahun," tandas Sentanu.
________________________________________________________
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

1 komentar:
Terima kasih anda telah mem-posting riwayat "industri film Bahskara" tahun 1970. Salam hangat dari Bhaskara Film singaraja.
Posting Komentar